Rabu, 23 Desember 2009

Sahabatku

Sahabatku……….!
Di dalam keremangan hidup ini,
aku berjalan mencari arti kehidupan
teringat aku padamu,
Sahabatku……….!
Engkau yang selalu membantu
di dalam mencari arti kehidupan yang sebenarnya
tapi kini
dirimu tla jauh………dan terlalu jauh untuk ke jangkau
Sahabatku……….!
kepergianmu dengan tiba-tiba
sangat ku sesali
mengapakah aku tak tahu ??
setelah aku tahu semuanya
engkau sudah tiada padaku lagi

Cerita Lucu Tentang :"Drakula Gembel"

Di Inggris Utara, ada Underground Cafe yang khusus hanya untuk dracula. Di sana tersedia semua jenis darah dalam botol-botol minuman yang terdiri dari berbagai darah segala kalangan manusia.

Dracula dari Rusia masuk.

“Mau minum, Tuan?” tanya pelayan.

“Ya, beri saya sebotol darah bangsawan abad 17″

“Wah harganya seribu pounds, Tuan”

“No problem, saya punya Credit Card”

Begitu darah bangsawan diberikan, dia mengeluarkan Credit Card dari kantongnya dan meletakkannya di meja, lalu minum dengan santai.

Dracula dari Jepang masuk.

“Mau minum, Tuan?” tanya pelayan.

“Saya minta darah segar dari seorang perawan”

“Tiga ratus pounds, Tuan”

“No probrem, saya punya banyak uang”

Begitu darah segar diberikan, dia mengeluarkan uang kertas dari kantongnya dan meletakkannya di meja, lalu minum dengan santai.

Dracula dari Indonesia masuk.

“Mau minum, Tuan?” tanya pelayan.

“Mmmmmm saya minta segelas air hangat saja”

“Oh itu gratis, Tuan. Tapi dracula tidak minum air, Tuan”

“No problem, saya punya yang instant”

Begitu air hangat diberikan, dia mengeluarkan pembalut wanita bekas dari kantongnya dan mencelupkannya ke air hangat, lalu minum dengan santai…

MEMILIH KEMATIAN


Aku merindukan mati di tangan istriku. Sungguh. Dan bahkan ingin secepatnya terlaksana. Tetapi mungkinkah istriku akan melakukan niatku itu, niat yang jarang diingini oleh suami yang ada di muka bumi ini. Keinginan mati di tangan istri ini tidak kusampaikan secara langsung kepada istriku. Tentunya kalau aku berterus-terang akan jadi hal yang aneh bagi istriku. Yohana, nama istriku itu, pasti akan mempertanyakan diriku kenapa, dan tentunya akan mengatakan aku ini gila. Ah, tidak. Dokter ahli jiwa yang memeriksaku mengatakan bahwa aku telah kembali sehat, alias normal. Jujur saja, aku merasa gemas sekali bila melihat istriku tengah menguliti kulit kentang atau sewaktu dia mengupasi kulit bawang di dapur. Aku ingin yang dikuliti adalah tubuhku.
Namun ketika kudekatkan diriku ke pisau yang dipegangnya, dia malah memelukku dan mengecup bibirku mesra. Mungkin dia mengira aku sedang merajuknya untuk bermesraan. Ah, tidak. Itu salah. Yang kuinginkan adalah kematian yang diproses oleh tangannya. Untuk hal ini aku sabar menunggu. Menunggu istriku kerasukan setan saat melihat diriku jadi sesuatu yang harus dia kuliti, sesuatu yang harus dia sayat-sayat seperti daging rendang, dicacah seperti daging cincang. Aku yakin, suatu saat keinginanku ini pasti terwujud. Tetapi, bukankah aku suami yang sangat dia cintai? Seorang pria terbaik di dalam hidupnya? Apapun anggapannya, aku tetap ingin mati di tangannya.
Kesempatan mati di tangan istriku selalu ada. Karena hampir setiap hari istriku belanja sesuatu yang harus dikupasnya menggunakan benda tajam. Semua bahan masakan yang dibelinya harus diracik dengan menggunakan pisau. Dipotong-potong hingga jadi beberapa bagian. Dan sewaktu istriku mencincang seekor ayam untuk digoreng, aku dekatkan leherku ke atas talenan dimana pisau yang dipegang istriku sedang berjalan-jalan di atas talenan itu. Istriku terhenyak.
"Apa-apaan sih kamu, Mas!" hardiknya sambil mengelakkan pisau yang dipegangnya dari leherku.
Dan sekali waktu, pernah kucoba lagi mendekatkan diriku di saat dia sedang mengiris-iris daging untuk dibuat rendang. Aku letakkan leherku di atas talenan secara tiba-tiba. Istriku menjerit karena hampir saja pisau yang dipegangnya mengenai leherku. Seketika itu juga pisau yang dipegangnya dia lempar ke pojok dapur. Lalu istriku memelukku dan meminta maaf atas keteledorannya. Sejurus kemudian dia menarikku ke dalam kamar. Membuka seluruh pakaianku. Beberapa menit kemudian dia membangkitkan gairah kelelakianku. Sejenak aku dibuat melayang. Akhirnya kami letih bersama. Setelah selesai, kepalaku diberi bantal dan kemudian disuruhnya aku tidur. Sialan! Aku benar-benar tertidur karena kecapekan.
Aku merindukan mati di tangan istriku. Sungguh. Dan kalau bisa secepatnya. Pasti asyik. Dan aku tak akan kecewa. Supaya niatku terlaksana, aku harus membuat istriku kesal dan sakit hati. Dengan begitu dia pasti kesal bahkan benci. Jika terus-menerus kubuat hatinya jengkel, lambat laun niat membunuh akan muncul dalam dirinya. Tetapi bagaimana, apakah aku bisa mempengaruhi setan agar mau menggoda hatinya untuk membunuhku tanpa rasa kasihan barang sedikit pun? Harus dicoba terus.
Suatu hari, istriku mengantarkan aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanku. Katanya, di belakang kepalaku terdapat benjolan sebesar bola pingpong. Setelah kuraba, ternyata memang ada benjolan di belakang kepalaku. Tetapi kata dokter yang memeriksanya, benjolan di belakang kepalaku tidak mengkhawatirkan. Nanti akan kempis sendiri. Aku baru ingat, benjolan itu timbul sewaktu istriku mendorong diriku ke tembok untuk menghindari sayatan pisau yang dipegangnya karena nyaris mengenai leherku. Memang waktu itu aku kembali dengan sengaja meletakkan kepalaku di atas talenan tempat istriku mencincang daging. Istriku menjerit dan segera mendorongku ke tembok. Dari situlah mungkin timbul benjolan di belakang kepalaku. Anehnya, saat itu istriku menangis karena merasa telah mengasariku. Sedangkan aku sendiri merasa menyesal kenapa istriku begitu sigap dan cepat menghindari kecelakaan yang akan menimpa diriku. Padahal sudah jelas kecelakaan itu aku yang merencanakan. Kini aku kembali berusaha agar istriku lengah. Sehingga kemana pun dia pergi aku wajib mengikutinya. Siapa tahu istriku lengah sewaktu akan melakukan pekerjaan yang menggunakan pisau.
"Yohana, kamu tidak beli daging lagi? Aku kepingin daging empal," tanyaku manja.
"Untuk makan hari ini sudah tersedia. Sekarang kamu mandi saja dulu," sahutnya.
"Aku mau mandi bersamamu," rajuk kemudian.
Istriku mengiyakan. Lalu kami masuk ke dalam kamar mandi. Kami telanjang. Terus saling sabunan. Tetapi tiba-tiba aku melihat beberapa ekor kecoa keluar dari lubang pembuangan air. Istriku tidak menjerit. Justru aku yang kaget dan jijik melihat kecoa yang begitu banyak keluar dari lubang pembuangan air itu.
"Tenang sayang," kata istriku sambil mengambil batu bata yang biasa digunakan untuk mengganjal daun pintu kamar mandi. Batu bata yang ada digenggamannya itu sertamerta dihantamkan ke tubuh kecoa itu berkali-kali. Ditumbukinya tubuh para kecoa yang terjebak di lubang pembuangan air itu sampai hancur. Oh, aku iri terhadap para kecoa yang dibantai istriku. Kecoa-kecoa itu mati dihantam batu bata. Tetapi aku sungguh amat menyesal, kenapa bukan diriku sebagai kecoa yang dibantai istriku di kamar mandi.
Pada hari berikutnya, istriku membeli ikan lele hidup. Banyak setengah kilo. Ikan lele itu dibawanya ke dapur. Aku mengikutinya dari belakang. Lalu ikan lele itu dituangkan ke lantai tempat mencuci perabotan dapur. Dengan menggunakan batu ulekan, kepala ikan lele itu dihantam satu persatu. Ikan-ikan itu menggelepar karena menahan rasa sakit. Ada yang baru dua kali hantaman ikan itu mati.
Tetapi ada pula yang baru lima kali pukulan baru mati. Hm, aku sungguh menikmati proses kematian ikan-ikan itu. Sewaktu tinggal dua ekor ikan lagi yang belum kena getok, istriku dikejutkan oleh suara panggilan dari halaman rumah. Istriku hanya menoleh, tak beranjak keluar. Barangkali istriku berpikir tidak ada urusan dengan orang luar. Maka dia sama sekali tidak meresponnya. Pada saat istriku menoleh tadi, secepat kilat aku letakkan kepalaku di antara ikan-ikan yang tengah menunggu dihantam batu ulekan. Kali ini istriku pasti akan lengah atas keselamatanku, dan aku menunggu hantaman batu ulekan yang ada ke kepalaku dengan terpejam. Tetapi apa lacur, istriku justru bangkit dan bergegas menuju ruang tamu karena mendengar telepon berdering. Sialan! Gagal lagi, gerutuku.

***

Aku mulai dihantui rasa kecewa. Bermacam cara sudah aku lakukan untuk membikin panas hati istriku. Bermacam akal sudah kubikin agar istriku lengah pada keselamatan suaminya di rumah. Aku ingin istriku lengah. Aku ingin istriku membenci diriku. Hingga pada akhirnya dia bisa membunuhku dengan pisau atau benda apa saja, yang penting aku bisa mati di tangan istriku. Tetapi semua pancinganku selalu gagal. Akhirnya aku jadi cemas sendiri. Kesal. Gondok. Bosan dan lain sebagainya.
Tanpa sepengetahuan istriku, akhirnya aku pergi keluar rumah. Berjalan kaki menyusur trotoar. Melewati tempat-tempat yang pernah aku singgahi bersama teman, mantan pacar, mantan istriku yang amat kubenci. Atau pun bersama istriku yang sekarang ini. Bernostalgia? Ah, apakah ini jalan kenangan? Kalau iya, untuk apa aku mengenangnya?
Bukankah mengenang masa lalu sama halnya mengenang kebodohan, dengan kata lain sama halnya mengenang ketololan yang pernah kita buat? Dan konon, membuka lembaran lama adalah sebuah kemunduran? Sialan! Masa bodoh! Aku tak peduli. Yang terpenting sekarang ini adalah bagaimana mencari cara agar didalam hati istriku Yohana, timbul rasa kesal yang mengakibatkan punya rasa benci sehingga dia akhirnya membunuhku dengan tangannya sendiri. Itu saja.
Aku terus berjalan menuju jalan raya. Beraneka macam keramaian kulewati. Aku berdiri di atas jembatan layang, menengok ke bawah jembatan. Ratusan kendaraan bermotor deras meluncur di bawahku. Bunuh diri? Pikirku. Oh, tidak. Bukan kematian seperti itu yang kuinginkan. Bukankah sudah kukatakan diawal cerita, bahwa aku kepingin mati di tangan istriku. Titik. Soal kenapa aku memilih mati di tangan istri, jelas ada alasannya.
Selain unik, tentulah nikmat bagiku. Kalau mati dengan cara lain, bagi orang lain mungkin biasa saja. Seperti misalnya menubrukkan diri ke kereta yang sedang berjalan kencang atau ke mobil yang tengah melaju cepat. Atau bisa juga dengan cara gantung diri di pohon.
Tetapi itu sudah bukan berita aneh lagi bagi masyarakat luas. Masyarakat akan mengenang kematian semacam itu pada hari itu saja. Paling banter, tempat yang lebih terhormat untuk membicarakan kematian semacam itu paling-paling pada acara arisan ibu-ibu di rumah RT. Sedang aku ingin punya sensasi tersendiri. Dimana tubuhku dicincang oleh istriku sendiri. Seperti dia mencincang daging, atau sama persis ketika dia memotong ayam menjadi beberapa bagian untuk digoreng. Pasti asyik. Pasti syur.
Tetapi sial! Sewaktu aku sedang membayangkan istriku tengah melakukan penyincangan terhadap organ tubuhku, tiba-tiba sebuah mobil sedan berhenti tepat di depanku. Terputuslah keindahan lamunanku itu. Setan alas! umpatku kesal. Mobil itu datang dari arah belakang lalu mendadak berhenti dengan posisi sedikit menyerong di depanku. Aku diam berdiri menunggu. Ternyata pengemudinya seorang perempuan berkaca mata hitam. Itu kuketahui setelah perempuan itu membuka pintu mobil sebelah kiri. Aku menoleh dan mencoba mengenalinya. Belum jelas siapa perempuan di dalam mobil itu, terdengar suara mengancam.
"Aku minta kamu masuk," perintahnya sambil menodongkan sepucuk pistol ke arahku.
Aku terkejut. Apa-apaan ini? pikirku.
"Cepat masuk! Mencoba lari, mati kamu!" ancamnya lagi.
Didorong rasa takut akhirnya aku masuk ke dalam mobil itu. Perempuan itu membuka kacamatanya. Astaga! Dahlia?! pekikku dalam hati.
Dadaku sontak gemetar. Nama yang sudah sekian lama aku kubur kini tiba-tiba menjelma serigala d idepanku. Kenapa dia ada di kota ini? Bukankah dia semestinya masih berada di dalam penjara karena satu kilogram heroin yang aku taruh di bawah jok mobilnya ditemukan polisi sehingga dia ditangkap sejak lima tahun lalu? Gila! Pengadilan apa ini? Bukankah seharusnya dia mendapat hukuman minimal duapuluh tahun penjara jika seandainya dia terhindar dari hukuman mati? Negara apa ini? Sialan! umpatku dalam hati.
Mobil yang dia kemudikan melesat cepat di jalan bebas hambatan. Pistol di tanganya seakan menjilati rasa ketakutanku. Setelah mobil meluncur deras, Dahlia, mantan istriku pertama yang sering kukhianati dan kutipu gabis-habisan itu tampak mulai menyerocos.
"Setelah kamu berhasil menjebloskan aku ke penjara, lalu menceraikanku tanpa alasan yang jelas, terus kamu kawin lagi dengan Yohana, saingan bisnisku, kamu pikir aku akan menyerah begitu saja, dan bisa melupakan kelicikan kamu yang terang-terangan telah merugikan dirku serta merampas semua yang aku punya? Tidak bisa, Sukandar. Aku sakit hati. Aku dendam terhadapmu. Dan sekarang, nikmati saja pembalasan dari orang yang telah kamu rugikan begitu banyak," kata Dahlia serius.
Aku gemetar. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. Aku jadi bingung, hilang akal. Kenapa aku tiba-tiba merasakan takut seperti ini. Takut perempuan sialan itu membunuhku.
Dalam pikiranku yang berkecamuk, mobil yang dikemudikan mantan istriku itu memasuki area perkebunan karet. Mau apa dia? Ingat pada uangnya yang aku curi dan kugunakan untuk kawin lagi dengan Yohana yang sekarang jadi istriku. Ah, istriku! Mendadak aku ingat istriku di rumah. Pasti dia sekarang lagi mencari-cariku untuk diajak makan bersama, ngemil makanan kecil sambil nonton televisi. Pasti Yohana sekarang sedang kelabakan mencari diriku. Kasihan sekali dia. Tetapi bagaimana, apa aku bisa lepas dari cengkeraman manusia satu ini?
"Hai, Sukandar!" Suara Dahlia memotong lamunanku. "Kamu adalah manusia yang paling bejat di dunia ini. Kamu sudah teramat gila! Daripada kamu gila berkepanjangan sehingga merepotkan banyak orang, lebih baik kamu mati saja!"
"Apa, mati?! Oh, tidak! Aku hanya ingin mati di tangan istriku yang bernama Yohana. Bukan kau, kunyuk! tukasku dalam hati. Tetapi Dahlia makin bengis. Ludahnya berkali-kali mendarat ke wajahku. Aku naik pitam. Ingin sekali mencekik lehernya, atau menghantamkan benda apa saja ke tubuhnya jika ada kesempatan. Tetapi tidak kutemukan satu pun benda keras di dalam mobil untukku melawannya. Dahlia ternyata mengendus rencanaku. Maka dia mendorong punggungku dengan pucuk pistolnya keluar dari dalam mobil. Aku sedikit lega berada di alam terbuka. Banyak kesempatan untuk melawannya. Aku melihat sebatang kayu tergeletak di tanah. Aku buru kayu itu untuk kuhantamkan ke tangannya yang tengah memegang pistol. Tetapi lagi-lagi Dahlia membaca gelagatku. Satu tembakan diarahkan ke sebatang kayu yang gagal kuraih. Aku terkejut. Aku jadi amat takut sekali.
"Untuk sekedar kamu tahu, letusan pistolku tadi tak akan terdengar oleh siapa pun. Kamu jangan berharap akan ada orang lain datang ke sini untuk menyelamatkanmu. Hutan ini cukup sepi. Aku akan leluasa menghabisi nyawamu dengan caraku sendiri. Paham?"
Ketakutanku semakin menyengat. Tenagaku seperti terbenam di lumpur. Kerongkonganku kering dan lidahku berat mengucap. Sejenak aku melihat pistol yang tergenggam Dahlia semakin tegak mengarah ke tubuhku.
"Jangan Dahlia... aku mohon jangan lakukan. Kasihani aku, Dahlia," ratapku sambil bersujud di atas rumput. Meratap di bawah kakinya. Aku menghamba sebisa mungkin. Tetapi sia-sia. Dahlia minta aku kembali berdiri. Dan seiring kelelawar-kelelawar hutan keluar dari sarangnya pada senja hari, saat itu pula Dahlia menembakkan pistolnya ke dada kiriku, ke dada kananku, dan terakhir pistolnya itu ditembakkan ke perutku.
Tiga peluru bersarang di tubuhku. Habislah aku.
Tetapi kematian seperti ini sungguh bukan yang aku inginkan! ©

Hujan

by Dwiyanita Saesarianti

menjelang siang itu
dari balik tirai
kutatap rumput hijau pepohonan
seakan damai tertebar ke relung jiwa ini

tak lama langit biru menjadi kelam
awan putih beranjak pergi
matahari entah kemana
dan titik titik air pun membasahi tanah
menebarkan bau bumi

langit, apakah ini sindiran darimu?
mengapa kau menangis
seharusnya aku yang mengucurkan airmata
tangisan pedih karena cintaku beranjak pergi
tetesan kesedihan atas nama hati yang terluka

Kado Termahal


Ini bulan kedua, aku menunggu kedatangan Benny. Suratnya yang terakhir, tiga bulan lalu, bercerita tentang rencana kepulangannya dari Jepang. Untuk menemuiku. Tentu saja dengan janji memberi kado untukku.
Ada kebohongan yang kusimpan rapi, katanya. Dia selalu dihantui mimpi buruk tentangku. Lalu kenapa dia tak juga pulang hingga kini? Mungkin saja dia telah tahu, kebohongan yang memang selalu tersembunyi rapi untuknya. Aku tak pernah bisa mengungkap kebohongan itu dalam suratku, meski seribu sinyal telah diterima Benny sebagai kecurigaan.
Mengapa kamu tak pernah balas emailku, mengapa harus via surat, sebegitu sibukkah kamu hingga tak bisa menyempatkan diri ke warnet? Dan seribu tanya lagi, yang hanya bisa kujawab dengan diam. Aku tak ingin menjadi beban pikiran Benny. Aku tahu betul, bagaimana besar perhatian Benny terhadapku. Begitu pun aku padanya. Sebagai sahabat, kami memang telah menunjukkan kesetiaan masing-masing.
Untuk pertama kalinya, kudengar suara Benny terisak lewat telepon, saat dengan terpaksa aku harus mengundurkan diri untuk pertukaran pelajar ke Jepang. Aku ingin sekali melihat airmatanya, tapi sungguh tak mungkin. Pihak kedutaan Jepang, langsung mengkarantinakan Benny, setelah menyelesaikan interview dan tes tertulisnya, saat itu.
Tes saat itu sebenarnya, cukup bergengsi. Dari ratusan peserta yang ikut tes dari awal, hanya aku dan Benny yang lolos, dan itu hanya akan dipilih satu orang.
"Aku yakin kamu yang akan berangkat, Radar!" ucapnya semalam sebelum ikut tes.
"Dengan alasan apa?"
"Kamu satu level di atasku, di kursus Bahasa Jepang. Pengenalan Kanji-mu hampir menyamai orang Jepang asli."
"Kamu juga nggak mungkin lolos hingga seleksi akhir, jika nggak ada yang istimewa dari kamu."
Dia terdiam. Malam itu, dia gelisah sekali. Sangat! Aku bahkan menyalakan AC kamar, karena kupikir dia sedang kepenatan. Hanya semenit AC berhembus, dia mematikannya. Gelisahnya tak juga padam. Semakin menjadi. Bahkan sesekali kulihat tatapannya, menancap ke arahku, lalu terbang liar saat tatapan itu kubalas dengan diam.
Aku bisa mengerti. Benny adalah tumpuan harapan orangtuanya. Satu-satunya! Adik-adiknya yang masih kecil, masih butuh perjalanan panjang, untuk mencapai cita-citanya. Benny sendiri pun, sebenarnya terancam tak bisa kuliah setelah lepas SMA. Papanya yang hanya pegawai negeri sipil, tak bisa berbuat banyak, karena mamanya yang sakit-sakitan.
Ikut pertukaran pelajar, adalah jalan alternatif untuk mengurangi sedikit beban orangtuanya. Apalagi, jika dianggap sukses, proyek pertukaran pelajar itu, dilanjutkan dengan pemberian beasiswa, untuk melanjutkan kuliah gratis di Jepang. Tentu saja, Benny semakin menggila. Cita-citanya untuk kuliah di Teknik Mesin, sedikit menemui celah.
Tapi salahkah aku, bila datang menutup celah itu? Menjadi saingan tunggalnya di program pertukaran pelajar itu? Orangtuaku memang mampu membiayai kuliahku, tapi adalah kebanggaan tersendiri yang akan kupersembahkan sebagai anak kepada orangtuanya, jika aku berhasil ke Jepang.
Apalagi, orang-orang di sekitar telah menganggap keluarga kami, sebagai keluarga berantakan. Kak Intan yang bulan lalu masuk penjara karena terbukti sebagai pengguna dan pengedar drugs. Kak Farid yang kerjanya ikut balapan liar, mabuk dan terkadang tak pulang dalam sebulan. Di rumah, hanya ada aku. Belajar dan belajar, untuk membuktikan pada Mama dan Papa, bahwa masih ada aku yang bisa mereka banggakan pada orang lain.
"Aku pulang dulu, Radar," ucapnya. Masih gelisah.
"Tengah malam begini?"
Dia mengangguk. Gugup! Tatapannya masih menyapu sekilas di wajahku, saat dia menyerahkan STNK dan kunci motorku, yang tadi siang dipinjamnya.
"Motormu sudah kumasukkan di garasi," katanya sambil berlalu pergi.
"Sampai jumpa besok, di tempat tes."
Langkahnya terhenti. Berbalik ke arahku, lalu mengangguk sekali. Ada kesan lirih dalam anggukan itu.
Sepulangnya, gelisah Benny, menular ke jiwaku. Aku tak bisa tidur. Di benakku, ada Benny yang akan tersenyum, meski harus terluka dengan kemenanganku besok. Seperti halnya Benny, aku juga merasa yakin bahwa akulah yang akan berangkat ke Jepang, mengikuti pertukaran pelajar itu. Dan Benny akan, tertinggal, bahkan tak bisa melanjutkan kuliah tahun depan setelah lulus SMA.
Aku harus mengalah! Itu yang akhirnya menjadi obat penenang jiwaku. Tak ada lagi gelisah. Aku masih punya banyak kesempatan untuk membuktikan pada orang lain, juga pada Mama dan Papa, bahwa aku lain dari Kak Intan atau pun Kak Farid, yang hanya bisa menciptakan beban kesulitan bagi keluarga.
Besok pagi, aku akan sengaja terlambat ke tempat tes. Aku tahu betul, etos kerja orang Jepang, yang seolah mendewakan waktu, hingga tak senang dengan orang yang tak menghargai detak jarum detik
Ini adalah keputusan. Tak boleh berubah. Bujukku pada batinku sendiri, yang masih berat untuk menerima keputusan itu.
Besok paginya. Rencana keterlambatanku, berjalan lancar. Aku bahkan tak pernah lagi melihat wajah Benny, hingga saat ini. Aku tak pernah tiba di tempat tes. Aku tiba-tiba terkurung di dunia sepi ini. Dunia sebatas langkah gelindingan ban kursi rodaku.
Kecelakaan pagi itu, membuatku kehilangan segala harapan. Jika tak sedih melihat Mama yang selalu murung, SMA-ku bahkan tak ingin kuselesaikan. Aku benar-benar tak bisa melangkah, di atas kursi rodaku. Seolah semua orang yang melihatku, mencibir dan menertawai.
"Radar, kenapa kamu nggak ikut tes? Kamu nggak apa-apa, kan? Panitia pertukaran pelajar, bekerjasama dengan pihak sekolahku, sepakat untuk langsung menerbangkanku ke Jakarta sekarang juga, untuk ikut pelatihan, bersama peserta dari provinsi lain."
Kalimat Benny itu, kudengar saat aku masih terbaring di rumah sakit.
"Aku menabrak truk yang melintasi cepat dari arah berlawanan," ucapku setegar mungkin, agar dia tak gelisah memikirkanku. "Tapi nggak terlalu parah," lanjutku dengan airmata menitik, saat seorang perawat datang membawakan kursi roda untuk tubuhku dengan sebelah tungkai kaki yang telah teramputasi.
Tak ada kalimat dari Benny. Bisu. Entah siapa, aku atau dia yang duluan meletakkan horn telepon. Hingga saat itu, aku kehilangan asa. Trauma. Motor yang kupakai saat kecelakaan pun, kurelakan jadi besi tua di kantor polisi.
Tapi mengapa Benny tak juga datang, hingga kini? Aku ingin melihat dia menangis melihat keadaanku. Padanya, aku akan berbagi duka tanpa ragu dia akan menertawaiku. Untuknya, aku akan persembahkan kado termahal, yakni kesediaanku untuk mengalah saat ikut seleksi pertukaran pelajar dulu. Meski akhirnya nasib buruk memaksaku untuk harus tetap tinggal di Makassar.
Aku mulai jenuh menunggu kedatangan Benny. Berlembar-lembar suratnya, yang bercerita tentang Negeri Sakura, telah berkali-kali kubaca. Demi sedikit mengobati rinduku yang memuncak sejak dua bulan lalu. Sejak dia berjanji akan pulang di liburan musim dingin.
"Betul ini rumah Pak Galang Wijaya?"
Aku mengangguk lemah. Polisi datang lagi ke rumah. Tetangga pasti pada mencibir lagi. Jangan-jangan Kak Farid lagi yang membuat masalah di luar, dan harus berurusan dengan polisi. Untung saja, Mama dan Papa, tak ada di rumah. Aku kasihan melihat Mama yang seolah trauma dengan polisi. Harapanku untuk membuat dia tersenyum bangga dengan kesuksesanku, harus berakhir kecewa di atas kursi roda.
Kedua polisi itu mengamati kursi rodaku, juga kakiku yang tak sama panjang. Aku jadi tersinggung dengan tatapan itu. Tapi aku bisanya apa? Rasa tak percaya diriku, kumat lagi.
"Atau, kamu putra Pak Galang yang kecelakaan beberapa bulan lalu. Radar?"
Aku mengangguk.
"Kami yang menangani masalah Adik."
"Masalah apa? Papa telah menyelesaikan semua kewajiban mengenai peristiwa kecelakaan itu. Tentang motorku yang belum juga diambil, aku yang melarangnya...."
"Itulah masalahnya," salah seorang dari polisi itu, langsung memotong kalimatku. "Dari penyelidikan kami, motor yang Adik pakai, sebelumnya sengaja dirusak dengan memutuskan tali rem. Peristiwa itu bukan murni kecelakaan, ada seseorang yang mendalanginya."
Dadaku berdebar tak karuan. Bayangan Benny yang selalu hadir sebagai sahabat sejati untukku, kini hadir sebagai malaikat maut. Inikah jawaban dari gelisahnya, semalam sebelum kejadian itu? Inikah alamat dari firasat buruk yang selalu kuterka dari tatapannya? Inikah gunanya sahabat? Kesedihan menjalar bebas masuk ke relung hatiku. Ini sedih yang terdalam, luka yang terperih. Lebih dalam dan jauh lebih perih, dibanding saat pertama kutahu, sebelah tungkai kakiku telah teramputasi.
"Papa dan Mama aku nggak ada di rumah," ucapku, lalu langsung berbalik dengan kursi rodaku.
Ada perih mengiris, saat mataku terhalang kabut, memandangi kursi roda yang kutumpangi. Kursi roda ini, kado termahal dari seorang sahabat bernama Benny. Kado ini tak akan kulupa, diberikan padaku demi kebahagiaannya. Lebih mahal dari harga kematian.
Harga mati untuk takdirku. ©