Rabu, 23 Desember 2009

Kado Termahal


Ini bulan kedua, aku menunggu kedatangan Benny. Suratnya yang terakhir, tiga bulan lalu, bercerita tentang rencana kepulangannya dari Jepang. Untuk menemuiku. Tentu saja dengan janji memberi kado untukku.
Ada kebohongan yang kusimpan rapi, katanya. Dia selalu dihantui mimpi buruk tentangku. Lalu kenapa dia tak juga pulang hingga kini? Mungkin saja dia telah tahu, kebohongan yang memang selalu tersembunyi rapi untuknya. Aku tak pernah bisa mengungkap kebohongan itu dalam suratku, meski seribu sinyal telah diterima Benny sebagai kecurigaan.
Mengapa kamu tak pernah balas emailku, mengapa harus via surat, sebegitu sibukkah kamu hingga tak bisa menyempatkan diri ke warnet? Dan seribu tanya lagi, yang hanya bisa kujawab dengan diam. Aku tak ingin menjadi beban pikiran Benny. Aku tahu betul, bagaimana besar perhatian Benny terhadapku. Begitu pun aku padanya. Sebagai sahabat, kami memang telah menunjukkan kesetiaan masing-masing.
Untuk pertama kalinya, kudengar suara Benny terisak lewat telepon, saat dengan terpaksa aku harus mengundurkan diri untuk pertukaran pelajar ke Jepang. Aku ingin sekali melihat airmatanya, tapi sungguh tak mungkin. Pihak kedutaan Jepang, langsung mengkarantinakan Benny, setelah menyelesaikan interview dan tes tertulisnya, saat itu.
Tes saat itu sebenarnya, cukup bergengsi. Dari ratusan peserta yang ikut tes dari awal, hanya aku dan Benny yang lolos, dan itu hanya akan dipilih satu orang.
"Aku yakin kamu yang akan berangkat, Radar!" ucapnya semalam sebelum ikut tes.
"Dengan alasan apa?"
"Kamu satu level di atasku, di kursus Bahasa Jepang. Pengenalan Kanji-mu hampir menyamai orang Jepang asli."
"Kamu juga nggak mungkin lolos hingga seleksi akhir, jika nggak ada yang istimewa dari kamu."
Dia terdiam. Malam itu, dia gelisah sekali. Sangat! Aku bahkan menyalakan AC kamar, karena kupikir dia sedang kepenatan. Hanya semenit AC berhembus, dia mematikannya. Gelisahnya tak juga padam. Semakin menjadi. Bahkan sesekali kulihat tatapannya, menancap ke arahku, lalu terbang liar saat tatapan itu kubalas dengan diam.
Aku bisa mengerti. Benny adalah tumpuan harapan orangtuanya. Satu-satunya! Adik-adiknya yang masih kecil, masih butuh perjalanan panjang, untuk mencapai cita-citanya. Benny sendiri pun, sebenarnya terancam tak bisa kuliah setelah lepas SMA. Papanya yang hanya pegawai negeri sipil, tak bisa berbuat banyak, karena mamanya yang sakit-sakitan.
Ikut pertukaran pelajar, adalah jalan alternatif untuk mengurangi sedikit beban orangtuanya. Apalagi, jika dianggap sukses, proyek pertukaran pelajar itu, dilanjutkan dengan pemberian beasiswa, untuk melanjutkan kuliah gratis di Jepang. Tentu saja, Benny semakin menggila. Cita-citanya untuk kuliah di Teknik Mesin, sedikit menemui celah.
Tapi salahkah aku, bila datang menutup celah itu? Menjadi saingan tunggalnya di program pertukaran pelajar itu? Orangtuaku memang mampu membiayai kuliahku, tapi adalah kebanggaan tersendiri yang akan kupersembahkan sebagai anak kepada orangtuanya, jika aku berhasil ke Jepang.
Apalagi, orang-orang di sekitar telah menganggap keluarga kami, sebagai keluarga berantakan. Kak Intan yang bulan lalu masuk penjara karena terbukti sebagai pengguna dan pengedar drugs. Kak Farid yang kerjanya ikut balapan liar, mabuk dan terkadang tak pulang dalam sebulan. Di rumah, hanya ada aku. Belajar dan belajar, untuk membuktikan pada Mama dan Papa, bahwa masih ada aku yang bisa mereka banggakan pada orang lain.
"Aku pulang dulu, Radar," ucapnya. Masih gelisah.
"Tengah malam begini?"
Dia mengangguk. Gugup! Tatapannya masih menyapu sekilas di wajahku, saat dia menyerahkan STNK dan kunci motorku, yang tadi siang dipinjamnya.
"Motormu sudah kumasukkan di garasi," katanya sambil berlalu pergi.
"Sampai jumpa besok, di tempat tes."
Langkahnya terhenti. Berbalik ke arahku, lalu mengangguk sekali. Ada kesan lirih dalam anggukan itu.
Sepulangnya, gelisah Benny, menular ke jiwaku. Aku tak bisa tidur. Di benakku, ada Benny yang akan tersenyum, meski harus terluka dengan kemenanganku besok. Seperti halnya Benny, aku juga merasa yakin bahwa akulah yang akan berangkat ke Jepang, mengikuti pertukaran pelajar itu. Dan Benny akan, tertinggal, bahkan tak bisa melanjutkan kuliah tahun depan setelah lulus SMA.
Aku harus mengalah! Itu yang akhirnya menjadi obat penenang jiwaku. Tak ada lagi gelisah. Aku masih punya banyak kesempatan untuk membuktikan pada orang lain, juga pada Mama dan Papa, bahwa aku lain dari Kak Intan atau pun Kak Farid, yang hanya bisa menciptakan beban kesulitan bagi keluarga.
Besok pagi, aku akan sengaja terlambat ke tempat tes. Aku tahu betul, etos kerja orang Jepang, yang seolah mendewakan waktu, hingga tak senang dengan orang yang tak menghargai detak jarum detik
Ini adalah keputusan. Tak boleh berubah. Bujukku pada batinku sendiri, yang masih berat untuk menerima keputusan itu.
Besok paginya. Rencana keterlambatanku, berjalan lancar. Aku bahkan tak pernah lagi melihat wajah Benny, hingga saat ini. Aku tak pernah tiba di tempat tes. Aku tiba-tiba terkurung di dunia sepi ini. Dunia sebatas langkah gelindingan ban kursi rodaku.
Kecelakaan pagi itu, membuatku kehilangan segala harapan. Jika tak sedih melihat Mama yang selalu murung, SMA-ku bahkan tak ingin kuselesaikan. Aku benar-benar tak bisa melangkah, di atas kursi rodaku. Seolah semua orang yang melihatku, mencibir dan menertawai.
"Radar, kenapa kamu nggak ikut tes? Kamu nggak apa-apa, kan? Panitia pertukaran pelajar, bekerjasama dengan pihak sekolahku, sepakat untuk langsung menerbangkanku ke Jakarta sekarang juga, untuk ikut pelatihan, bersama peserta dari provinsi lain."
Kalimat Benny itu, kudengar saat aku masih terbaring di rumah sakit.
"Aku menabrak truk yang melintasi cepat dari arah berlawanan," ucapku setegar mungkin, agar dia tak gelisah memikirkanku. "Tapi nggak terlalu parah," lanjutku dengan airmata menitik, saat seorang perawat datang membawakan kursi roda untuk tubuhku dengan sebelah tungkai kaki yang telah teramputasi.
Tak ada kalimat dari Benny. Bisu. Entah siapa, aku atau dia yang duluan meletakkan horn telepon. Hingga saat itu, aku kehilangan asa. Trauma. Motor yang kupakai saat kecelakaan pun, kurelakan jadi besi tua di kantor polisi.
Tapi mengapa Benny tak juga datang, hingga kini? Aku ingin melihat dia menangis melihat keadaanku. Padanya, aku akan berbagi duka tanpa ragu dia akan menertawaiku. Untuknya, aku akan persembahkan kado termahal, yakni kesediaanku untuk mengalah saat ikut seleksi pertukaran pelajar dulu. Meski akhirnya nasib buruk memaksaku untuk harus tetap tinggal di Makassar.
Aku mulai jenuh menunggu kedatangan Benny. Berlembar-lembar suratnya, yang bercerita tentang Negeri Sakura, telah berkali-kali kubaca. Demi sedikit mengobati rinduku yang memuncak sejak dua bulan lalu. Sejak dia berjanji akan pulang di liburan musim dingin.
"Betul ini rumah Pak Galang Wijaya?"
Aku mengangguk lemah. Polisi datang lagi ke rumah. Tetangga pasti pada mencibir lagi. Jangan-jangan Kak Farid lagi yang membuat masalah di luar, dan harus berurusan dengan polisi. Untung saja, Mama dan Papa, tak ada di rumah. Aku kasihan melihat Mama yang seolah trauma dengan polisi. Harapanku untuk membuat dia tersenyum bangga dengan kesuksesanku, harus berakhir kecewa di atas kursi roda.
Kedua polisi itu mengamati kursi rodaku, juga kakiku yang tak sama panjang. Aku jadi tersinggung dengan tatapan itu. Tapi aku bisanya apa? Rasa tak percaya diriku, kumat lagi.
"Atau, kamu putra Pak Galang yang kecelakaan beberapa bulan lalu. Radar?"
Aku mengangguk.
"Kami yang menangani masalah Adik."
"Masalah apa? Papa telah menyelesaikan semua kewajiban mengenai peristiwa kecelakaan itu. Tentang motorku yang belum juga diambil, aku yang melarangnya...."
"Itulah masalahnya," salah seorang dari polisi itu, langsung memotong kalimatku. "Dari penyelidikan kami, motor yang Adik pakai, sebelumnya sengaja dirusak dengan memutuskan tali rem. Peristiwa itu bukan murni kecelakaan, ada seseorang yang mendalanginya."
Dadaku berdebar tak karuan. Bayangan Benny yang selalu hadir sebagai sahabat sejati untukku, kini hadir sebagai malaikat maut. Inikah jawaban dari gelisahnya, semalam sebelum kejadian itu? Inikah alamat dari firasat buruk yang selalu kuterka dari tatapannya? Inikah gunanya sahabat? Kesedihan menjalar bebas masuk ke relung hatiku. Ini sedih yang terdalam, luka yang terperih. Lebih dalam dan jauh lebih perih, dibanding saat pertama kutahu, sebelah tungkai kakiku telah teramputasi.
"Papa dan Mama aku nggak ada di rumah," ucapku, lalu langsung berbalik dengan kursi rodaku.
Ada perih mengiris, saat mataku terhalang kabut, memandangi kursi roda yang kutumpangi. Kursi roda ini, kado termahal dari seorang sahabat bernama Benny. Kado ini tak akan kulupa, diberikan padaku demi kebahagiaannya. Lebih mahal dari harga kematian.
Harga mati untuk takdirku. ©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar