by Dwiyanita Saesarianti
menjelang siang itu
dari balik tirai
kutatap rumput hijau pepohonan
seakan damai tertebar ke relung jiwa ini
tak lama langit biru menjadi kelam
awan putih beranjak pergi
matahari entah kemana
dan titik titik air pun membasahi tanah
menebarkan bau bumi
langit, apakah ini sindiran darimu?
mengapa kau menangis
seharusnya aku yang mengucurkan airmata
tangisan pedih karena cintaku beranjak pergi
tetesan kesedihan atas nama hati yang terluka
skip to main |
skip to sidebar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar